t h e s m a l l j o u r n e y . .

beijing

Dalam perjalanan panjang dari Jakarta ke Ulaanbaatar saya harus transit overnight di Beijing. Sampai di Beijing pada sore hari dan harus terbang lagi ke Ulaanbaatar besok paginya. Setelah memperhitungkan seluruh waktu untuk berbagai keperluan, saya hanya punya waktu sangat terbatas. Ini adalah beberapa foto rekaman pengalaman 3 jam di Beijing.

Taman Olimpiade Beijing

Tidak akan ada cukup waktu untuk melihat seluruh bangunan dalam Taman Olimpiade ini. Saya memilih yang saya anggap paling populer; pilihan saya adalah the Bird’s Nest, Aquatic dan ruang-ruang publik diantara berbagai bangunan yang ada. Kesan saya, dua bangunan utama itu kurang terpelihara dan tampaknya juga tidak dimanfaatkan dengan optimal. The Bird’s Nest ditutup pagarnya, steril, berdebu dan gelap. Sementara Aquatic kehilangan gemerlapnya, banyak water feature-nya yang tidak dioperasikan, dan façade-nya mulai keriput karena jarang dinyalakan dan kehilangan tegangan yang diperlukan. Yang menarik justru ruang dan taman publik yang sangat hidup. Larangan untuk memasuki berbagai fasilitas yang ada tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke Taman Olimpiade Beijing, dan memanfaatkan ruang-ruang dan taman publik yang ada diseantero kompleks Olimpiade.

IMG_5468 IMG_5471 IMG_5507 IMG_5502

IMG_5492 IMG_5493 IMG_5498

Lapangan Tian An Men

Cuaca sudah gelap saat saya sampai di lapangan bersejarah ini. Karena akses ke Forbidden City sudah tutup, saya hanya berkeliling di Tian An Men dan menikmati malam yang ramai saat itu dengan turis lokal.

IMG_5518 IMG_5514 IMG_5520 IMG_5534

IMG_5522 IMG_5530 IMG_5532

Beijing Capital Airport Terminal 3

Airport terminal 3 ini luar biasa besar! Karya Sir Norman Foster. Ada kesan tergesa dibangun karena menjelang Olimpiade Beijing. Ketergesaan ini bukan pada ujud fisik bangunannya tetapi lebih kepada rancangan sirkulasi dan layout ruang dalam. Seperti lazimnya sebuah bangunan airport yang baik, kemudahan orientasi dan sirkulasi merupakan syarat mutlak yang harus dicapai. Saya tidak menjumpai hal ini sepenuhnya tercapai di airport baru ini. Perpindahan dari satu ujung ke ujung lain dalam satu terminal membutuhkan waktu 4 menit menggunakan kereta. Pindah dari satu terminal ke terminal yang lain, karena harus pindah pesawat misalnya, cukup membingungkan kalau tidak membaca teliti buku petunjuk atau bertanya beberapa kali pada meja informasi. Kemudahan bergerak berdasarkan signage seperti, misalnya, di Changi Airport, belum terjadi disini. Jadi, ya, kita nikmati saja kebesaran terminal ini dengan biasa-biasa saja ..

IMG_5537 IMG_5546 IMG_5538 IMG_5544

IMG_5542 IMG_5548 IMG_5904

.

:: Back to e @ wordpress

September 25, 2009 Posted by thesmalljourney | Uncategorized | | No Comments Yet