beijing
Dalam perjalanan panjang dari Jakarta ke Ulaanbaatar saya harus transit overnight di Beijing. Sampai di Beijing pada sore hari dan harus terbang lagi ke Ulaanbaatar besok paginya. Setelah memperhitungkan seluruh waktu untuk berbagai keperluan, saya hanya punya waktu sangat terbatas. Ini adalah beberapa foto rekaman pengalaman 3 jam di Beijing.
Taman Olimpiade Beijing
Tidak akan ada cukup waktu untuk melihat seluruh bangunan dalam Taman Olimpiade ini. Saya memilih yang saya anggap paling populer; pilihan saya adalah the Bird’s Nest, Aquatic dan ruang-ruang publik diantara berbagai bangunan yang ada. Kesan saya, dua bangunan utama itu kurang terpelihara dan tampaknya juga tidak dimanfaatkan dengan optimal. The Bird’s Nest ditutup pagarnya, steril, berdebu dan gelap. Sementara Aquatic kehilangan gemerlapnya, banyak water feature-nya yang tidak dioperasikan, dan façade-nya mulai keriput karena jarang dinyalakan dan kehilangan tegangan yang diperlukan. Yang menarik justru ruang dan taman publik yang sangat hidup. Larangan untuk memasuki berbagai fasilitas yang ada tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke Taman Olimpiade Beijing, dan memanfaatkan ruang-ruang dan taman publik yang ada diseantero kompleks Olimpiade.
Lapangan Tian An Men
Cuaca sudah gelap saat saya sampai di lapangan bersejarah ini. Karena akses ke Forbidden City sudah tutup, saya hanya berkeliling di Tian An Men dan menikmati malam yang ramai saat itu dengan turis lokal.
Beijing Capital Airport Terminal 3
Airport terminal 3 ini luar biasa besar! Karya Sir Norman Foster. Ada kesan tergesa dibangun karena menjelang Olimpiade Beijing. Ketergesaan ini bukan pada ujud fisik bangunannya tetapi lebih kepada rancangan sirkulasi dan layout ruang dalam. Seperti lazimnya sebuah bangunan airport yang baik, kemudahan orientasi dan sirkulasi merupakan syarat mutlak yang harus dicapai. Saya tidak menjumpai hal ini sepenuhnya tercapai di airport baru ini. Perpindahan dari satu ujung ke ujung lain dalam satu terminal membutuhkan waktu 4 menit menggunakan kereta. Pindah dari satu terminal ke terminal yang lain, karena harus pindah pesawat misalnya, cukup membingungkan kalau tidak membaca teliti buku petunjuk atau bertanya beberapa kali pada meja informasi. Kemudahan bergerak berdasarkan signage seperti, misalnya, di Changi Airport, belum terjadi disini. Jadi, ya, kita nikmati saja kebesaran terminal ini dengan biasa-biasa saja ..
.
:: Back to e @ wordpress





















