t h e s m a l l j o u r n e y . .

ayasofya

Hagia Sophia of Theodosius, was burned down in the fire of Nika Revoli in 532 AD during the reign of Justinian. The same year Justinian ordered to build a new basilica the one we can see today and only five years later, 537 AD it was opened to public. The architects of this new basilica was Isidorus from Miletus (Soke) and Anthemious from Tralles (Aydn). In the year 1453, with the conquest of Istanbul, Sultan Mehmed the Conqueror converted the church into a mosque. To strengthen up the building during the Turkish period architect Sinan did significant work in Hagia Sophia. During the reign of Sultan Abdulmecid (1839-1861) de Fossati brothers made various restorations in building. Hagia Sophia the legacy of both Christian and Muslim culture was opened for visits as a museum according to the order of Ataturk and he decision of the Turkish Assembly of Minister on 1st of February 1935. The Hagia Sophia museum was included in the list of UNESCO World’s heritage. The activities of the museum are supervised and supported by the Ministry of Culture of the Republic of Turkey.

Tulisan diatas adalah duplikat penuh dari plakat yang ada dipintu masuk Hagia Sophia (lokal: Ayasofya), termasuk tanda baca dan kesalahan tata bahasanya. Tetapi bukan itu, yang penting adalah bahwa sejarahnya mencatat siapa arsitek-arsitek yang terlibat dalam perancangan, dan renovasi perbaikan Ayasofya beberapa ratus tahun kemudian. Menurut saya ini contoh yang baik untuk ditiru di indonesia.

Sedikit tentang sejarah arsitekturnya, banyaknya ragam hias menjadi karakter arsitektur eklektik pada awal perioda Byzantium. Khusus pada bangunan gereja, terdapat dua tipe utama yaitu basilika dan kubah. Tipe basilika dicirikan oleh ruang lengkung panjang berkolom (colonnade) beratap (biasanya) kayu dan berujung pada atap setengah lingkaran. Tipe kubah adalah tipe dimana seluruh ruang-ruang utama berada dibawah satu kubah utama. Tipe kubah ini populer dan menjadi dominan selama perioda Byzantium (330-1453).

Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istanbul), dibangun pada jaman Kaisar Justinian I selama lima tahun dan diresmikan pada tahun 537, merupakan contoh utama dari tipe kubah. Sisi luar bangunan merupakan paduan massa yang sederhana tetapi, seperti halnya gereja-gereja jaman Byzantium, justru ruang dalam dirancang dengan penuh keramaian ragam hias. Di Hagia Sophia, arsitek Anthemious dan Isidorus dianggap telah menciptakan salah satu ruang dalam terbaik didalam sejarah arsitektur. Kubah utama berdiameter 100 meter didirikan pada ketinggian sekitar 56 meter dari lantai, dengan lingkaran cahaya yang menerobos kedalam dari lubang-lubang jendela dibawahnya. Kubah utama yang asli sudah runtuh karena gempa bumi dan dibangun kembali pada tahun 563. Struktur penyangga utamanya adalah empat buah pendentive (spherical triangle), penemuan cerdas para arsitek jaman Byzantium.

Pada tahun 1453 kekaisaran Ottoman menguasai Konstantinopel dan Sultan Mehmed II mengubah gereja Hagia Sophia menjadi sebuah masjid. Pada perubahan ini bel-bel gereja, altar dan peralatan persembahan dipindahkan, tetapi hampir seluruh mosaik bergambar hanya ditutup plesteran saja. Terbukti kemudian kalau plesteran ini malah sangat membantu menjaga kelestarian mosaik tersebut. Pada kondisi awalnya, dinding-dinding dalam bangunan seluas sekitar 18.000 m2 dilapisi dengan mosaik dari marmer kualitas tinggi berwarna emas, hijau, biru dan merah..

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa tidak ada perubahan orientasi bangunan baik pada masa digunakan sebagai gereja maupun sesudah dirubah menjadi masjid. Seperti diketahui, masjid mempunyai orientasi mutlak menghadap kearah kiblat yaitu Kabah di Mekah. Karena arah kiblat ini maka umumnya perubahan fungsi bangunan menjadi masjid meminta perubahan orientasi bangunan juga. Hal ini tidak terjadi pada Hagia Sophia. Ditempat bekas altar gereja digantikan oleh mihrab masjid. Dari beberapa informasi yang saya peroleh, saya menemukan sebuah alasan kuat yang mendukung. Gereja orthodox, seperti Hagia Sophia pada jaman Byzantium, juga dianggap mempunyai kiblat tertentu yaitu kearah Jerusalem, tempat Jesus dilahirkan. Kalau kita pelajari pada peta bumi maka, dari Istanbul, arah Jerusalem dan Mekah hampir segaris kearah yang sama. Perbedaan kecil ini memang terjadi dimana posisi akurat mihrab masjid tidak persis diatas bekas alter gereja, melainkan sedikit bergeser kearah kanan, sesuai dengan garis kiblat kearah Kabah di Mekah.

Pada masa Sultan Salim II (1566-1577), Hagia Sophia menunjukkan gejala kerusakan sehingga dilakukan perbaikan and perkuatan dengan tambahan struktur pendukung di bagian luar. Renovasi ini dilakukan oleh arsitek lokal bernama Sinan. Selain struktur pendukung, ia juga menambahkan mesanin untuk ruang Sultan di dalam masjid, dua menara (minaret) dan, kemudian, kuburan (mausoleum) Sultan di luar masjid.

Mustafa Kemal Ataturk, presiden Turki pertama, pada tahun 1935 mengubah masjid Hagia Sophia menjadi sebuah museum. Karpet besar penutup lantai dipindahkan sehingga lantai marmer asli digunakan kembali, dan plesteran penutup mosaik disekujur ruang dalam bangunan dibersihkan sehingga mosaik bergambar asli muncul kembali. Saat ini, hanya di dalam Hagia Sophia kita bisa melihat kaligrafi Islam berada bersama dengan gambar Jesus dan Bunda Maria.

:: Back to e @ wordpress

Hari ini, Sabtu, 5 juli 2008, ada 2 artikel di harian Kompas tentang Istanbul dan Hagia Sophia. Saya kutip artikel tersebut melengkapi cerita pada halaman ini.

Istanbul
Kemolekan Bizantium dan Ottoman

Sabtu, 5 Juli 2008
Vincentia Hanni S.

Kemal berarti kesempurnaan. Itulah nama yang diberikan seorang guru ketika Mustafa berhasil menyelesaikan sekolah kadet militer. Mustafa tak memilih jalan hidup menjadi sarjana taat yang diharapkan Zubaidah, ibunya yang saleh. Jalan ini justru mengantarkan Mustafa membawa Turki keluar dari bayang-bayang the sickman of Europe.

Sikap Mustafa Kemal Ataturk sudah jelas. Saat diplomat-diplomat mengajak ia menjadi kampiun dunia Timur melawan dunia Barat, Mustafa dengan tegas menjawab, ”Saya bukan orang yang gandrung pada sebuah federasi seluruh bangsa Islam, juga bukan sebuah liga dari seluruh bangsa Turki di bawah kekuasaan Soviet. Tujuan saya hanyalah menyelamatkan kemerdekaan Turki, bukan untuk menghidupkan kembali Kerajaan Ottoman ataupun lainnya. Buanglah jauh-jauh mimpi dan khayalan itu!”

Kemal memang tak ingin kembali ke masa kejayaan Ottoman, juga keemasan Bizantium. Ia ingin melihat Turki yang maju, Turki yang modern. Bahkan, ketika tudingan Turki lebih condong ke Barat, Kemal tetap tak menggubris.

Turki kini memang berubah. Wajah modern terlihat di setiap sudut kota Istanbul, salah satunya. Gedung-gedung bertingkat puluhan berdiri dengan gagah mengimbangi kekokohan masjid-masjid besar buatan abad ke-17 dan ke-18 dengan kubah dan menara menjulang di sana-sini kota Istanbul.

Jalan-jalan layang sudah dipadati dengan mobil-mobil aneka merek, baik buatan Eropa maupun Jepang. Kafe-kafe kecil ataupun besar bertebaran di pinggir-pinggir jalan.

Mal-mal yang tersebar di kota Istanbul pun memamerkan kemewahan Barat. Grand Kanyon, salah satunya, merupakan mal mewah yang dibangun mirip seperti ngarai cantik Grand Canyon. Kemacetan pada jam berangkat dan pulang kerja pun sudah pemandangan lazim setiap hari bagi warga Turki. Meski macet, tak pernah terdengar teriakan suara klakson.

Bagi warga yang tak punya mobil, subway yang cepat dan modern sudah tersedia. Tinggal lihat peta, lalu cari jalur subway terdekat dan tinggal memilih akan turun di mana.

Transportasi terbilang mudah di Istanbul. Jika tak ingin naik subway, bisa juga naik bus dengan melihat rute bus yang ada di kaca depan.

Seperti kondisi negara-negara sibuk, semua orang berjalan cepat dan tak banyak orang duduk-duduk nongkrong di pinggir jalan. Kalau ingin ngobrol, mereka biasanya duduk di kafe-kafe sambil menikmati teh Turki dan makan doner dari daging domba.

”Wah, waktu saya ke sini, dollar AS masih beberapa ribu lira. Sekarang 1 lira hampir sama dengan 1 dollar AS,” ujar seorang teman yang berasal dari Indonesia. Memang banyak yang terkejut karena mata uang lira Turki ternyata sama kuatnya dengan dollar AS. Kalau memecah 100 dollar AS, ternyata hanya dapat 118 lira Turki.

Kemolekan tak tersembunyikan

Namun, di balik wajah modern Istanbul itu, kemolekan masa Bizantium dan Ottoman tak pernah bisa disembunyikan. Pun kecantikan alam Istanbul yang dibelah Selat Bosphorus.
Istanbul adalah kota besar Turki dengan total area 5.712 kilometer dan berpenduduk 12 juta orang. Turki terbelah oleh sebuah jembatan besar Bogazici Koprusu yang membentang di atas Selat Bosphorus. Jembatan ini merupakan penghubung antara daratan Asia dan daratan Eropa yang menjadi bagian dari negara Turki.

Di sebelah utara Istanbul berbatasan dengan Laut Hitam, sebelah timur dengan wilayah Kocaeli dan Laut Marmara, serta sebelah barat dengan wilayah Tekirdag dan Kirklaeri. Marmara terkenal sebagai Princes Islands.

Di timur Bosphorus, bukit- bukit indah membentang, seperti Aydos dekat Kartal, Bukit Calomca di timur Uskudar merupakan tempat-tempat wisata yang cantik. Hutan-hutan mengelilingi kota secara sporadis, seperti Hutan Belgrad yang berada 20 kilometer di utara kota Istanbul.

Kota Istanbul memang memiliki pemandangan yang sangat impresif, di satu sisi didominasi oleh kecantikan Golden Horn dan Selat Bosphorus. Golden horn adalah muara sungai yang berbentuk seperti tanduk yang gemerlap. Ia adalah muara yang memisahkan kota. Golden Horn adalah teluk kecil di dalam daratan Eropa kota Istanbul. Golden Horn merupakan salah satu dari pelabuhan alam terbaik di dunia.

Di era Bizantium Golden Horn merupakan pelabuhan komersial terkenal yang paling sibuk. Pada tahun 1453 Fatih Sultan Mehmet II yang pandai mengunjungi tempat ini dengan menarik semua armadanya melintasi rawa-rawa hingga ke bukit di belakang Galata dan masuk ke Horn.

Fatih menaklukan kerajaan Bizantium dan menaklukan kota. Menurut sebuah legenda, Golden Horn mendapat namanya karena pada saat penaklukan, orang-orang Byzantines yang melarikan diri membuang semua harta mereka ke dalam sungai. Namun, cerita yang lebih umum mengatakan, nama itu diberikan karena cahaya emas yang keluar dari sungai saat matahari tenggelam.

Selat Bosphorus yang berada antara Laut Hitam di sebelah utara dan Marmara di sebelah selatan menjadikannya urat nadi penting navigasi global. Pasukan bersenjata dan para politisi telah berperang tiada habisnya, seperti Perang Trojan pada tahun 1200 sebelum Masehi di tempat ini. Pada milenium berikutnya, Bosphorus menjadi pelayan bagi banyak tuan, mulai dari Yunani, Persia, Roma, Bizantium, dan sejak 1453 Turks.

Sejak 1936 Perjanjian Montreux menjadikan Selat Bosphorus menjadi salah satu dari jalan laut tersibuk di dunia dengan rata-rata 50.000 kapal melintas setiap tahunnya. Atau bisa disebut empat kali lebih besar daripada Terusan Panama.

Melintas di sepanjang Selat Bosphorus dengan kapal kayu bermesin sungguh menakjubkan. Apalagi, jika matahari mulai tenggelam, bangunan-bangunan tua yang cantik terlihat semakin ayu. Dolmahbahce Palace, Rumeli Fortress, dan Beylerbeyi Palace semakin indah bila dipandang dari selat.

Di antara Bosphorus dan Golden Horn terbentang Semenanjung Sultanahmet, pusat dari kota tua. Di semenanjung ini monumen-monumen terbagus, seperti masjid, gereja, dan istana, tersebar di area ini. Lima pilar sejarah Istanbul yang utama adalah Topkapi Palace, Blue Mosque, Haghia Sophia, Hippodrome, dan Basilica Cistern. Basilica Cistern atau Yerebatan Sarayi adalah istana yang dibangun di bawah tanah.

Di dekat mereka sebuah pasar besar yang sangat legendaris, Kapali Carsi atau sering juga disebut Grand Bazaar. Ini adalah pasar terbesar di Istanbul yang dibangun oleh Mehmet II pada tahun 1461 untuk mendukung para pedagang agar bisa berdagang secara aman. Di sini mau belanja apa saja ada, mulai dari souvenir, karpet, tekstil indah, jaket kulit, hingga lampu-lampu hias yang cantik. Tentu harus pandai-pandai menawar.

Istanbul memang seperti Salome yang berdansa dengan tujuh selendangnya. Ia telah memesona semua laki-laki terbesar dalam sejarah, mulai dari Justinian, Constantine, hingga Mehmet sang penakluk. Mereka telah membuatnya menjadi ratu kejayaan mereka.

Namanya pun berubah-ubah, mulai dari Bizantium, Constantinopel, hingga Istanbul. Istanbul akan selalu cantik, mulai dari kepala hingga ujung kakinya. Tertarik untuk menikmati kecantikan Istanbul?

Evolusi Sang Hagia Sophia
Sabtu, 5 Juli 2008
Vincentia Hanni S.

Kecantikan Hagia Sophia Katedral mengundang banyak turis pasti menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Kini bernama Ayasofya Museum. Letaknya tak jauh dari Blue Mosque, hanya dipisahkan oleh Jalan Yerebatan Oad untuk bisa mencapai Hagia Sophia atau Ayasofya.

Dari jauh bangunan berkubah warna merah bata dengan empat menara di sebelah kiri dan kanannya pasti mengundang orang masuk ke dalamnya. Luas Hagia Sophia sekitar 7.570 meter persegi, disebut-sebut sebagai gereja terbesar keempat di dunia. Interior didominasi kubah dengan tinggi 55,60 meter persegi. Terdapat 40 jendela di sana.

Pintu gerbang bergaya Barat menjadi pintu masuk yang akan mengarahkan pengunjung ke lobi luar bangunan Hagia Sophia. Setidaknya ada lima gerbang utama masuk ke lobi.

Dari lobi menuju ke bangunan utama gereja melalui sembilan pintu gerbang kayu yang kokoh, tiga gerbang utama merupakan pintu kekaisaran. Dari gerbang utama, pengunjung bisa melihat gambar Yesus yang dibuat pada abad kesembilan. Pada sisi kiri dan kanannya terlihat gambar Bunda Maria dan malaikat Gabriel. Gambar mosaik itu diapit oleh tulisan Arab Allah dan Muhammad di kiri kanannya.

Sebelum masuk ke dalam bangunan Hagia Sophia atau Ayasofya ini, di bagian depan bangunan terdapat beberapa batu yang berada di kedalaman 2 meter. Menurut sejarahnya, itulah puing-puing dari bangunan kedua Gereja Hagia Sophia.

Hagia Sophia pertama kali dibangun antara 325 sampai 360 Masehi. Konstruksi dibangun selama pemerintahan Constantine dan diselesaikan oleh putranya, Constantius, pada tahun 337-361 Masehi. Ia menjadi gereja terbesar di kota ini yang dikenal sebagai Megalo Ekklesia. Nama Hagia Sophia atau Kebijaksanaan Rahasia diabadikan pada abad kelima dan nama inilah yang dikenal pada masa Byzantine, Turki, hingga era Ayasofya.

Gereja pertama berupa basilica berdinding batu dengan atap dari kayu. Hagia Sophia dibuka untuk menjadi tempat ibadah pada 15 Oktober tahun 360 Masehi. Kemudian Hagia Sophia dibakar oleh para pemberontak pada abad kelima. Ia dibakar oleh masyarakat yang marah karena dari pembuangan Uskup Konstantinopel, Iohannes Khrysostomos, ke Arcadius. Uskup ini dibuang karena protesnya terhadap kekaisaran perempuan. Pemberontakan terjadi 20 Juni tahun 404 Masehi.

Theodosius II pada tahun 408-450 Masehi memilih arsitek Roufinos untuk membangun kembali gereja. Akhirnya Hagia Sophia kembali dibangun dan dibuka sebagai tempat ibadah pada 8 Oktober 415 Masehi. Hanya dalam waktu singkat bangunan kedua ini kembali dibakar pada masa pemberontakan Nika, 13 Januari 532 Masehi. Puing-puing gereja kedua ditemukan kembali pada saat penggalian 1935. Akan tetapi, penggalian tidak dilanjutkan karena dikhawatirkan akan merusak substruktur dari bangunan yang ada sekarang.

Justinian memerintahkan untuk membangun gereja baru yang sangat menakjubkan dan belum pernah dibuat sebelumnya. Ia pun memilih dua arsitek paling terkenal pada masa itu, yaitu Anthemios dari Tralles dan Isidoras dari Miletus. Berangkat dari pengalaman sebelumnya, kayu dihindari dipakai sebagai konstruksi.

Marmer-marmer mahal dibawa dari semua penjuru kerajaan, kolum-kolum sebagai interior dibawa dari candi-candi di Baalbek, Heliopolis, Ephesus, dan Delphi, sedangkan pilar putih dibuat di Proconessos, pilar hijau dari Tesselian, emas dari Lybian, merah muda dari Phrygian, dan warna gading dari marmer Cappadocian. Dinding utama, kubah, dan lorong-lorong dibangun dari batu bata. Konstruksi ini memakan waktu lima tahun dengan 1.000 tukang yang ahli dan 10.000 orang buruh.

Namun, sayang, Hagia Sophia kembali runtuh akibat gempa bumi yang merusak strukturnya pada tahun 558 Masehi.

Pada masa penaklukan Turki di Istanbul 1453, Mehmet II menemukan runtuhan gereja ini. Sang penakluk memimpin shalat Jumat di Hagia Sophia dan memerintahkan untuk mengubahnya menjadi masjid. Kemudian, mimbar ditambahkan. Struktur utama dan mosaik dari interior dibiarkan tetap tak diubah.

Hagia Sophia dideklarasikan sebagai monumen nasional dan menjadi museum oleh Mustafa Kemal Ataturk pada 24 Oktober 1934. Evolusi Hagia Sophia menjadi Ayasofya Museum menggambarkan hal yang sama, evolusi kota Istanbul.

:: Back to e @ wordpress

June 18, 2008 - Posted by thesmalljourney | Uncategorized | | 1 Comment

1 Comment »

  1. Tulisan yang menarik dan effortnya juga ok… keep on writing!!!

    Comment by NSuwarno | June 28, 2009 | Reply


Leave a comment