t h e s m a l l j o u r n e y . .

kyoto eki

… Kyoto sangat dikenal sebagai kota budaya di Jepang, seperti halnya Yogyakarta di Indonesia. Citra ini memang tidak timbul dalam sekejap. Kalau kita sempat berkeliling Kyoto maka hal ini tampak jelas melalui arsitekturnya yang terpelihara dengan baik, antara lain kuil-kuil besar, dan rumah-rumah tradisional yang kini banyak beralih fungsi menjadi penginapan atau ryokan.

Pertama kali menginjakkan kaki kita akan terperangah. Dari bentang alam kota yang sepi dari high rise, tiba-tiba muncul kubus kaca berukuran sangat besar dengan tinggi menyaingi Kyoto Tower dihadapannya. Ukuran stasiun ini adalah panjang 470 meter, lebar 27 meter dan tinggi 60 meter. Design-nya memaksimalkan penggunaan struktur baja dan dinding-dinding kaca yang luas. Bandingkan dengan kuil-kuil kayu dan batu yang bertebaran di kota itu! Arsiteknya mengatakan bahwa ini adalah simbol sebuah gerbang penghormatan kepada sejarah. Salah satu perujudannya adalah memantulkan kesibukan kota pada dinding kaca sebagai interaksi dengan arsitektur Kyoto tua.

Berbeda dengan ruang-ruang tradisional Jepang yang umumnya tertutup dan bersekat-sekat shoji, ruang-ruang pada stasiun ini sangat modern dan terbuka. Ruang-ruang individual gaya lama tersebut ditinggalkan dan diganti oleh ruang bersama terbuka gaya mall di Amerika. Ruang macam ini memang kemudian menjawab kebutuhan stasiun dalam konteks kekinian yang modern, cepat dan tidak berdiri sendiri. Orientasi ruang menjadi lebih mudah dibaca, dan hal ini sangat diperlukan bagi para pengguna stasiun.

Kebiasaan lama yang juga ditinggalkan adalah merancang ruang utama hanya untuk fungsi stasiun. Disini kita tidak melihat itu. Bahkan bila kita berada didalam hall utama, kita tidak melihat rel kereta api sekalipun. Yang menonjol justru elemen-elemen sirkulasi seperti tangga, escalator yang menjulang, ruang-ruang terbuka yang besar untuk meeting point, serta berbagai akses menuju hotel, restauran atau menuju peron kereta api. Loket-loket penjualan karcis diletakkan di beberapa tempat sehingga kerumunan para pembeli tidak mengganggu arus keluar masuk. Harap dimengerti bahwa secara fungsional, stasiun ini memang dirancang untuk menjadi hub utama dari berbagai moda transportasi. Selain kereta api lokal, dan bis kota yang dengan jalur mengelilingi Kyoto, ada juga terminal bis yang dihubungkan langsung dengan bandara Kansai yang baru di Osaka. Jalur kereta api super cepat shinkansen antara Tokyo, Nagoya dan Osaka juga melalui stasiun ini. Jelas hal ini merupakan keputusan pemerintah daerah Kyoto untuk bertahan sebagai tujuan utama turis datang ke Jepang.

Kyoto-eki dibangun untuk memperingati 1200 tahun kekaisaran Heian dan dibuka untuk publik pada tahun 1997. Bangunan terdiri dari 16 lantai termasuk 3 lantai basement, diisi dengan berbagai fungsi lain seperti kantor pemerintah, kantor pos, museum, department store, hotel, teater, shopping mall, bioskop, restoran dan sebuah lantai observasi di atas. Luas keseluruhan lantai mencapai 238.000 m2. Dinding-dinding kaca membawa masuk cahaya matahari untuk penerangan siang hari, dan ruang-ruang dalam yang terbuka memberikan kesempatan para pengguna stasiun untuk tetap dapat melihat ruang luar. Pada malam hari dinding kaca ini menjadi layar transparan besar yang memperlihatkan cahaya dan denyut kegiatan didalam stasiun.

Pembangunannya diawali dengan suatu sayembara design. Sebuah panitia yang terdiri dari wakil-wakil masyarakat umum, pemerintah daerah Kyoto, masyarakat industri dan perusahaan kereta api, menyelenggarakan sayembara internasional yang dimenangkan oleh arsitek lokal Hiroshi Hara. Ia dianggap paling memuaskan dalam menjawab tujuan sayembara yaitu peremajaan kota tua, revitalisasi sistem transportasi publik, dan menyediakan akomodasi terpadu bagi turis. Coba bandingkan dengan stasiun Beos di Jakarta Kota. Ia mempunyai posisi yang mirip dengan stasiun Kyoto lama, dan dengan kota tua Jakarta yang pada saat ini sedang diremajakan, akankah kita juga menyelenggarakan sebuah sayembara revitalisasi Beos?

Stasiun karya Hara-san ini pada dasarnya berbentuk segi-empat dengan penutup atap transparan. Komposisi ruang dalam yang mengalir tanpa sekat dan void yang sangat besar menghasilkan ruang hampa yang terbuka ke langit. Sedikitnya seakan-akan menggambarkan kota Kyoto itu sendiri: jaringan jalan kota yang sibuk, ruang kota yang bebas mengalir tanpa kehadiran pencakar langit, kuil-kuil dengan skala yang dramatis, dengan perbukitan disekeliling kota sebagai batas vertikal. Hiroshi Hara dengan berani menggunakan berbagai komponen arsitektur modern seperti façade kaca, struktur baja exposed, atrium sebuah mall, dan pusat transportasi berteknologi mutakhir berdampingan dengan arsitektur Kyoto tua yang lemah lembut dan tertutup. Ia mengatakan “Simply put, the new Kyoto Station is in a way sub-culture … culture for everyone! Popular architecture …

Pada atap stasiun diletakkan sebuah skywalk, yaitu jembatan dengan konstruksi baja yang digantung pada ketinggian 55 meter dari lantai utama stasiun. Jembatan ini menghubungkan sebuah taman angkasa di sisi Barat dengan hotel di sebelah Timur. Orang bisa mencapai jembatan ini melalui escalator yang curam. Jadi, jembatan ini sengaja dibuat untuk penggunanya menikmati arsitektur bangunan. Pemakai jembatan akan mengalami perubahan irama yang teratur antara warna struktur besi yang gelap dan cahaya terang dari dinding kaca, dan sesekali mengintip secercah pemandangan kota Kyoto dari atas.

Tetapi yang paling mengesankan adalah keberhasilan stasiun ini menjadi pusat transportasi yang nyaman. Berbeda sekali dengan stasiun-stasiun di negara kita yang umumnya kumuh dan hanya dijadikan tempat sekedar lewat. Sesungguhnya bangunan stasiun harus dirancang untuk menjadi tempat yang nyaman dan indah sebagai wadah pusat informasi dan sirkulasi. Syukur kalau kemudian bisa menjadi tengeran seperti halnya stasiun Kyoto ini, karena akan menjadi salah satu orientasi dalam membaca sebuah kota.

:: Back to e @ wordpress

May 4, 2008 - Posted by thesmalljourney | Uncategorized | | 1 Comment

1 Comment »

  1. [...] stasiun itu, bukan sekedar jalan-jalan tentunya, tapi sekaligus studi banding. Artikel di bawah ini dikutip dari sini, sedangkan foto-foto dari halaman facebooknya [...]

    Pingback by Kasmaji 81 Solo | January 19, 2009 | Reply


Leave a comment