t h e s m a l l j o u r n e y . .

masiyan

masiyan-map3.jpg

Perjalanan untuk wukuf dengan berjalan kaki dari Mekah sampai padang Arafah dan kemudian kembali ke Mekah. Pilihan berjalan kaki (masiyan) dan tidak berkendaraan (roqiban) dilakukan untuk napak tilas perjalanan ibadah haji serupa jaman dulu.

walking-to-arafah.jpg food-station.jpg

Yang menarik dari perjalanan ini adalah tersedianya pedestrian sangat lebar, bahkan jauh lebih lebar dari jalan mobil kearah yang sama, khusus dibangun untuk para jamaah pejalan kaki. Jarak sekitar 16 km, ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam, selalu terang benderang oleh lampu-lampu. Sesekali dalam perjalanan ini bertemu dengan rombongan lain yang juga melakukan masiyan. Suasananya sangat mengharukan dan ruang-ruang virtual bergerak terbentuk dari doa-doa yang dikumandangkan oleh setiap rombongan. Saya membayangkan kejadian ini dilihat dengan bird’s eye view, ada ruang bola-bola suara yang bergerak disepanjang lampu yang berkelok-kelok sementara lokasi disekitarnya gelap gulita. Di beberapa tempat volume bola suara membesar karena perkuatan suara pertemuan beberapa rombongan di satu titik … kemudian mengecil lagi dan saling menjauh.

to-musdalifah.jpg overnight-at-musdalifah.jpg

Imajinasi ini tidak lagi terjadi pada saat perjalanan kembali. Ratusan ribu jamaah berjalan kaki pada waktu yang bersamaan menuju Musdalifah, untuk mengumpulkan batu kerikil, dan kemudian Mina untuk melempar Jumroh. Selesai adzan Magrib di padang Arafah rombongan mulai bergerak. Wajah-wajah yang tampak cerah dan ikhlas, semuanya dengan kain ihrom warna putih lusuh bercampur debu jalan yang menguap keatas … hampir tidak ada ruang untuk berdiam sejenak kecuali rela terhempas oleh rombongan besar dari belakang. Sejak Magrib sampai lepas tengah malam gelombang ini terus bergerak … sampai saatnya sebagian beristirahat dan sholat malam di Musdalifah.

Selain masjid di Mina dan Musdalifah, tidak ada bangunan lain kecuali toilet prefab pada setiap kilometer, tong sampah dan sebuah terminal makanan. Bangunan fungsional empat persegi panjang yang tampak dari jauh bersinar putih kebiruan, tempat membagikan kue-kue dan minuman gratis bagi para pejalan kaki. Toilet, menjadi bangunan penting. Tidak saja pada saat perjalanan awal, tetapi terlebih pada saat kembali. Antrian panjang selalu terjadi menunggu giliran masuk toilet, dan karena demikian penuhnya di Musdalifah bahkan atapnya dipakai tempat sholat.

Perjalanan kembali yang panjang dan melelahkan sampai di Mina untuk melempar Jumroh. Tidak semua jamaah beruntung memperoleh tenda dekat dengan tempat melempar Jumroh, oleh karena itu banyak yang memilih untuk beristirahat di sekitar situ sambil menunggu saat melempar keesokan harinya.

Detail konstruksi Jumroh-nya menarik untuk diperhatikan. Dulu hanya berbentuk kolom mengecil keatas dan berdiri langsung diatas tanah. Jadi pada setiap pelemparan terbentuk gunungan batu kerikil penuh menutupi kolom tersebut. Ini menyulitkan pelemparan berikutnya dan terjadi cross circulation untuk membersihkan kerikil-kerikil tersebut. Pada perkembangannya kemudian dibangun dinding sepanjang sekitar 20 meter menutupi kolom, dan ditinggikan karena level lantai untuk melempar dibuat berlapis. Seluruhnya menjadi 3 lapis. Lapis pertama tetap pada ketinggian semula dan lapis kedua berada sekitar 5 meter diatasnya. Kedua lapis ini difungsikan sebagai lantai pelemparan. Lapis ketiga dibangun dibawah lapis pertama, sebagai basement, dan tidak digunakan untuk pelemparan. Lapis ini berfungsi sebagai lantai pengumpul batu kerikil. Jadi dinding Jumroh itu dibangun melayang dengan disangga oleh balok-balok beton. Disekitar dasar dinding dibuat lubang untuk mengalirkan batu kerikil ke lantai basement. Dengan demikian tidak terjadi lagi gunungan kerikil, dan pembersihannya juga tidak mengganggu prosesi pelemparan Jumroh.

Saat ini dinding-dinding tersebut (3 buah: Ula, Wustha dan Aqobah) sudah ditinggikan lagi karena lantai pelemparan ditambah beberapa lapis keatas.

:: Back to e @ wordpress

March 16, 2008 - Posted by thesmalljourney | Uncategorized | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment