t h e s m a l l j o u r n e y . .

benteng vanderwijck

sedikit tambahan catatan untuk proyek inventarisasi dan identifikasi benteng-benteng di indonesia yang dikerjakan oleh pusat dokumentasi arsitektur ..

Benteng Van Der Wijck
Dari Wikipedia bahasa Indonesia

Benteng Van Der Wijck adalah benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun pada abad ke 18. Benteng ini terletak di Gombong, sekitar 21 km dari kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, atau 100 km dari Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Nama benteng ini diambil dari Van Der Wijck, yang kemungkinan nama komandan pada saat itu. Nama benteng ini terpampang pada pintu sebelah kanan.

Benteng ini kadang dihubungkan dengan nama Frans David Cochius (1787-1876), seorang Jenderal yang bertugas di daerah barat Bagelen yang namanya juga diabadikan pada benteng ini.

Data teknis benteng
Luas Benteng atas 3606,625m2
Benteng bawah 3606,625 m2
Tinggi Benteng 9,67 m, ditambang cerobong 3,33 m.
Terdapat 16 barak dengan ukuran masing-masing 7,5 x 11,32 m.


Frans David Cochius
Dari Wikipedia bahasa Indonesia

Frans David Cochius (Valburg, Overbetuwe, 1787 – Rijswijk, 1876) ialah seorang perwira teknik tempur Belanda dan penerima Militaire Willems-Orde Ksatria Kelas III (sejak tanggal 7 Mei 1822).

Cochius bertugas sebagai kapten di Militer Perancis antara tahun 1811-1814 dan pada tahun 1843 ditugaskan di Timur Jauh, pada tahun 1830 ia menjadi komandan korps pengamat di Salatiga yang ada di antara serdadu, marinir, dan marechausée dan pada tahun 1837 menaklukkan Bonjol, sebagai purnawirawan letnan jenderal.

Sebagai mayor jenderal, pada tanggal 16 Agustus 1837, Cochius menaklukkan kubu Sumatera yang kuat di Bonjol. Dengan penaklukan tersebut, perlawanan kaum Adat-Padri berakhir, yang sejak tahun 1831 berlangsung di daerah pegunungan Sumatera Barat tersebut. Kaum Paderi membentuk gerakan perlawanan, yang hampir tak dapat dipercaya, dengan cara itu sebagian besar orang Belanda Kristen berhati-hati, karena musuh telah bertekad akan menghalau mereka dari Sumatera dan di pulau tersebut akan dibentuk pemerintahan berdasar Islam. Mereka memanfaatkan taktik gerilya yang membuat gusar pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

Di daerah bergunung tersebut pasukan kolonial selalu kalah antara tahun 1831-1837 meskipun kaum Paderi terkadang kalah sepanjang jalannya tahun di sejumlah tempat. Pada tahun 1836, mereka berkubu di benteng pegunungan yang besar bernama Bonjol, yang selama setahun dikepung oleh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger tanpa hasil. Ketika lainnya kalah, Mayjen Cochius bertempur dengan kekuatan artileri besar dan sejumlah pasukan brilian yang menghancurkan pinggiran kubu tersebut. Perlawanan di Sumatera Barat dilaporkan dengan pasti saat itu. Aceh di utara pulau, baru bisa diduduki pada awal abad ke-20.

Atas kemenangan di Bonjol, pada tanggal 8 Mei 1838, Raja Willem I membuat sebuah penghargaan, Ruit van Bonjol, yang hanya untuk 23 orang militer pribumi yang “berani dan ulung” dan tak ditujukan untuk Cochius. Sebuah ornamen seragam perwira dinamai menurut Jenderal Cochius. Ornamen tersebut berbentuk bulu dari ayam hitam. Selain itu, sebuah benteng di Gombong dinamai menurut namanya, dan sekarang benteng itu berubah nama menjadi Benteng Van der Wijck.

:: Back to e @ wordpress

November 29, 2009 Posted by thesmalljourney | Uncategorized | | No Comments Yet